Birahimu Nak

Dan semua akan berjalan dengan apa adanya karena memang sudah kuasa Allah SWT

Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang terbaik karena nama bermakna do’a, memberi pendidikan yang baik dan kalau mereka sudah dewasa kewajiban orang tua adalah menikahkan. Kalau sampai ada yang terlewat dan tidak dilaksanakan dan menyebabkan mereka menjadi brutal, orang tua juga akan kena. Namun apa yang kualami sungguh sangat diluar perkiraan. bagaimana tidak, anakku yang merupakan “harta karun” ku (begitu ceritaku pada teman saat masih awal punya anak pertama dulu, sekitar tahun 1995) yang akan kujaga dan akan kuperjuangkan sampai kami sebagai orang tua tidak mampu lagi.

Dan itu pula yang menjadi keputusanku saat memutuskan menyekolahkan anakku di pondok. Karena memang kami orang tuanya tidak mempunyai basic agama yang bisa diberikan untuk pegangannya kelak. Namun apa mau dikata bila hasil yang didapat sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Manusia hanya bisa berusaha namun hasil akhirnya hanya kuasa Allah SWT saja yang menentukan.

Mestinya kalau mengikuti nafsu kata hati, diriku patut marah dengan kelakuan anakku. Namun lebih baik diam sebagai wujud bahwa kami sebagai orang tua sangat tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan. Padahal dalam kesehariannya tidak menunjukan hal-hal yang aneh, mungkin dulu saat masih MA sering ketahuan nelpon-nelponan malam hari. Dan itu sudah ditegur oleh ibunya dan sekarang tidak pernah lagi. Namun sekarang saat membaca inboxnya di FB diriku hanya bisa ngelus dada. Ternyata anakku memang tidak seperti dulu lagi dan memang sudah matang dalam segala hal termasuk dalam birahi.

Namun sayangnya birahinya itu (menurutku) sangat tidak tepat sasaran. Bekas pacanya yang sudah menikah masih dikejar2. Diriku tidak tahu apa yang telah dilakukan mereka karena dulu saat ditanya oleh ibunya tentang isi inbox di FB, jawabanya tidak pernah ada apa-apa dan hanya cuma iseng nulis. Mungkin jawaban itu untuk ibunya bisa dipercaya namun tidak bagiku karena saat itu masih ada keraguan kalau melihat tulisan itu. Dan sekarang kembali tulisan senada itu kembali terulang dan isinya ternyata lebih “hebat” kegaduhannya. Karena ada bara amarah, dingannya rasa kangen dan harapan yang setinggi langit.

Jujur saja, diriku tidak pernah mendengar kata-kata kasar yang terlontar dari bibir anakku dalam kehidupan nyata. Namun dalam tulisan di inbox, kalimat BANG**T banyak menyebar dari atas sampai kebawah menunjukan hawa amarah yang keluar atas tindakan yang pernah dilakukan dan tidak ada pertanggung jawaban. Diriku juga tidak tahu apa anakku masih prawan atau tidak, namun dari kalimat yang tertulis menunjukan bahwa mereka pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar pacaran. Hal inilah yang membuat ibunya marah karena kenyataan tidak sesuai harapannya.

Menurutku yang salah memang diriku, karena masih tidak melaksanakan kewajiban orang tua terhadap anak yang terakhir. Karena diriku melihat kematangan birahi dalam tulisannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s